BURSA SAHAM

Bursa saham adalah tempat investor memperdagangkan saham. Di Indonesia dikenal dengan nama PT Bursa Efek Indonesia yang berlokasi di kawasan sentral bisnis Sudirman di jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Pada awalnya, Indonesia memiliki tiga bursa efek yakni PT Bursa Efek Paralel, PT Bursa Efek Surabaya (BES) dan PT Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pada tahun 2007, BES dan BEJ digabung atau merger menjadi PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bursa saham hadir pertama di Indonesia pada 14 Desember 1912, didirikan di Batavia (saat ini dikenal dengan kota Jakarta) oleh pemerintahan Hindia Belanda. Pecahnya perang dunia I berdampak pada penutupan kegiatan Bursa Efek Batavia selama kurung waktu 1925 hingga 1918.

Bursa Efek Batavia dibuka kembali tahun 1925 hingga 1942. Pada kurung waktu bersamaan dibuka dua bursa efek baru yakni bursa efek di Semarang dan Bursa Efek Surabaya. Namun awal tahun 1939, bursa efek di Semarang dan Surabaya ditutup akibat munculnya isu perang dunia II.

Bursa Efek Batavia yang telah berubah nama menjadi Bursa Efek Jakarta pun kembali berhenti beroperasi pada 1942 hingga 1952 akibat pecahnya perang dunia II. Pada 1952, BEJ diaktifkan kembali dengan hanya memperdagangkan obligasi pemerintah.
BEJ pada tahun 1956 mulai stagnan setelah pemerintah menggulirkan program nasionalisasi perusahaan-perusahaan Hindia Belanda. BEJ tidak lagi aktif hingga 1977.

Baru pada 10 Agustus 1977, Bursa diaktifkan kembali oleh presiden Soeharto di bawah pengawasan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Emiten pertama yang mencatatkan sahamnya di bursa pada saat diaktifkan kembali bursa saat itu adalah PT Semen Cibinong yang saat ini berubah nama menjadi PT Holcim Indonesia.

Pada periode 1977 hingga 1987, kegiatan di bursa tidak semarak karena hanya 24 emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa.
Sebagian besar masyarakat Indonesia yang memiliki modal belum melirik untuk investasi di saham karena mereka masih memilih menyimpan uang di bank.

Kondisi ini mendorong pemerintah untuk melakukan perubahan peraturan (deregulasi) di perbankan dan pasar modal pada 1987 termasuk memudahkan calon emiten untuk go public (menawarkan saham ke publik) dan membolehkan investor asing berinvestasi di pasar saham Indonesia.

Pada 2 Juni 1988, Bursa Paralel Indonesia didirikan dan dioperasi oleh organisasi perdagangan uang dan efek yang terdiri dari broker (pedagang efek/pialang) dan dealer.

Pada 16 Juni 1989, Bursa Efek Surabaya beroperasi kembali. Pada 13 Juli 1992, BEJ berubah status menjadi perusahaan swasta (swastanisasi) dan pertama menerapkan sistem perdagangan otomotasi berbasis komputer (the computerized Jakarta Automatic Trading System/JATS) pada 22 Mei 1995. Pada tahun yang sama, BES dan Bursa Paralel Indonesia digabung atau merger.

Scripless Trading. Pada tahun 2000, untuk pertama kali, BEJ menerapkan perdagangan saham tanpa warkat (scripless). Bentuk kepemilikan tidak lagi berupa lembaran saham yang diberi nama pemiliknya tapi sudah berupa account atas nama pemilik atau saham tanpa warkat. Jadi penyelesaian transaksi akan semakin cepat dan mudah karena tidak melalui surat, formulir dan prosedur yang berbelit-belit.

Remote Trading. Pada tahun 2002, BEJ menerapkan remote trading, teknologi yang memungkinkan pialang dapat bertransaksi saham dari luar bursa atau dari kantornya masing-masing. Sebelum itu, pialang hanya dapat bertransaksi di bursa dengan fasilitas JATS yang disediakan oleh bursa.

Online Trading. Saat ini transaksi saham melalui internet mulai dikembangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s