Mengenal Saham

Saham yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan share atau stock mempunyai pengertian “kepemilikan” (ownership), yakni kepemilikan pada sebuah perusahaan. Jika anda mendirikan sendiri perusahaan maka anda sendiri memiliki perusahaan itu sepenuhnya (100 persen). Tapi jika anda mengajak teman, bisa lebih dari satu, maka perusahaan yang didirikan menjadi milik bersama. Bagaimana dengan porsi kepemilikan masing-masing? Ini tergantung besarnya modal awal yang disetor untuk pendirian perusahaan dimaksud.

Nah, dalam perjalanan biasanya perusahaan menghadapi masa-masa sulit. Bisnis yang digeluti perusahaan belum berkembang, masih jauh dari harapan untuk membukukan keuntungan, sementara pemilik perusahaan mulai kewalahan dengan keuangan untuk membiayai operasional perusahaan. Apa yang bisa dilakukan anda sebagai pemilik perusahaan dalam situasi seperti ini?

Jika anda putus asa anda bisa saja membiarkan perusahaan anda bangkrut. Tapi jika anda ingin mempertahankan karena yakin bisnis yang digeluti memiliki prospek bagus maka anda akan mencari solusinya.

Dewasa ini, tidaklah mudah mencari pinjaman dari bank untuk membantu keuangan perusahaan karena trauma krisis ekonomi Asia tahun 1998 dan krisis ekonomi global tahun 2008 membuat bank-bank menjadi enggan dan hati-hati memberi pinjaman ke sektor usaha.

Tapi janganlah kecil hati, anda punya dua solusi lain untuk memperoleh pembiayaan.

Pertama anda bisa menerbitkan surat utang “obligasi” berjangka waktu 3-5 tahun dan menawarkan bunga atau kupon (coupon) yang menarik. Bunga yang dibayarkan setiap tahun itu harus di atas bunga deposito di bank agar ada yang mau membeli obligasi yang anda tawarkan.

Kedua, anda bisa menawarkan sebagian saham ke pihak lain dengan risiko kepemilikan anda di perusahaan menyusut. Berbeda dengan obligasi yang tidak mengurangi porsi kepemilikan. Meski demikian, harus diingat jika anda gagal membayar bunga atau pokok obligasi, yang dikenal sebagai wanprestasi atau default, maka perusahaan anda bisa terancam dibangkrutkan oleh para pemegang obligasi (bondholders).

Perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah sangat marak memilih alternatif pembiayaan melalui penerbitan obligasi dan saham. Kebanyakan perusahaan yang sudah berkembang memilih menerbitkan obligasi karena memiliki kemampuan membayar bunga dan pokok pada jatuh tempo (maturity). Sedangkan perusahaan-perusahaan baru berkembang memilih menerbitkan saham.

Apa yang membuat saham itu menarik?

Bukan mimpi jika anda masih di bangku SMA atau kuliah bisa menjadi pemilik sebuah perusahaan raksasa seperti PT Telekomunikasi Indonesia, PT Astra International atau PT Bank Central Asia. Dengan cukup membeli satu lembar saham ketiga perusahaan ini di Bursa Efek anda menjadi salah satu pemilik ketiga perusahaan tersebut sekaligus.

Saat ini harga saham Telkom di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 8,000 per saham, Astra Rp 41,000 dan BCA sebesar Rp 5,000 per saham. Hanya saja Bursa Efek saat ini belum memperkenankan anda membeli satu lembar saham saja karena bursa menjualnya dalam bentuk lot dimana satu lot terdiri dari 500 lembar saham.

Perusahaan biasanya menerbitkan saham dan menawarkan kepada masyarakat umum (public investors) dan mencatatkannya di bursa efek. Perusahaan yang menerbitkan saham atau obligasi dikenal sebagai emiten (pihak yang meng-emisi) atau issuer.

Di Indonesia, perusahaan yang telah menawarkan saham ke publik disebut sebagai perusahaan terbuka (public company) atau perusahaan tercatat (listed company) dengan kode TBK (terbuka) dicantumkan di belakang nama perusahaan. Contohnya, PT Telekomunikasi Indonesia TBK.

Dividen dan Capital Gain

Jika obligasi menawarkan bunga yang lebih tinggi dari deposito, banyak masyarakat Indonesia mulai menggandrungi saham karena saham memberi dua keuntungan sekaligus, yang nilainya jauh lebih besar dibanding keuntungan dari bunga deposito.

Pertama, dividen yakni pembagian laba perusahaan di akhir tahun jika perusahaan membukukan keuntungan. Dividen yang diberikan perusahaan dapat berupa dividen tunai yaitu uang atau dividen saham dimana pemegang saham mendapatkan jumlah saham tambahan sesuai porsi saham yang dimiliki.

Kedua, capital gain, yakni keuntungan yang diperoleh dari selisih harga antara pembelian saham dari perusahaan dan penjualan di bursa efek. Contohnya, anda membeli saham PT Elnusa dengan harga Rp 400 per lembar saat ditawarkan perusahaan dan menjual di bursa efek dengan harga Rp 470 berarti anda memperoleh capital gain sebesar Rp 70 per lembar saham.

Bagaimanapun, anda tidak selalu bisa memastikan dapat meraih capital gain, karena anda bisa alami capital loss. Ini sering terjadi seiring dengan makin bergejolaknya pasar saham di bursa efek. Tidak heran beberapa calon emiten kemudian mengurungkan niat menerbitkan saham karena kondisi pasar saham yang tidak mendukung. Emiten-emiten ini sangsi saham yang akan ditawarkan tidak diserap oleh pasar karena investor tidak mau mengambil risiko capital loss.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s