“Butuh Patience untuk educate pasar modal…”

Pasar modal sudah cukup populer di Indonesia. Tapi baru segelintir orang dari sejumlah banyak yang mengenal pasar modal mengambil manfaat dari berinvestasi di pasar modal. Saat ini baru sekitar 380,000 investor yang memiliki rekening efek dan Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya menargetkan 2,300,000 investor pada akhir tahun 2012, artinya baru mencapai 1 persen dari total penduduk Indonesia.

Padahal media untuk bertransaksi saham sudah cukup banyak, tidak hanya bertransaksi di lantai bursa, seperti trading dari kantor broker atau remote trading dan trading via internet online trading). Bahkan trading oleh mahasiswa dari pojok bursa yang ada di kampusnya juga ikut berkontribusi.

Demikian pesimiskah potret pasar modal kita? Frederica Widyasari Dewi, Direktur BEI yang membidangi pengembangan pasar modal, menuturkan kondisi yang berbeda. Meski masih ada kendala, pasar modal telah berkembang luar biasa. Sangat besar animo masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, tidak hanya masyarakat di kota Jakarta tetapi di kota-kota besar lainnya.

Untuk merespon meningkatnya animo berinvestasi di pasar modal, BEI telah mendirikan sekolah pasar modal selain mengembangkan pusat informasi pasar modal (PIPM) di ibu kota propinsi seluruh Indonesia dan pojok bursa di kampus. Tujuannya satu yakni secara terus menerus mengedukasi masyarakat tentang manfaat berinvestasi di pasar modal. Berikut ini wawancara dengan Frederica Widyasari Dewi;

Apa yang menjadi tanggung jawab dan concern ibu sebagai Direktur BEI bidang pengembangan pasar modal?

Saya membawahi beberapa divisi seperti pemasaran, riset, ekonomi dan pengembangan usaha. Beberapa concern utama saya antara lain peningkatan jumlah investor, jumlah emiten (perusahaan yang go public dan tercatat di bursa) dan pengembangan produk. Kita targetkan jumlah investor pada 2012 mencapai 2,300,000 atau 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Market size (kapitalisasi pasar) kita mau double dari Rp 1,560 triliun per Juli 2009 menjadi Rp 3,000 triliun pada akhir 2012. Dari sisi produk, kita dalam waktu dekat akan luncurkan structured warrant, menambah produk yang sudah ada seperti KOS (Kontrak Opsi Saham), EBA (Efek Beragunan Aset). Kali ini kita create produk yang market-driven, sesuai kebutuhan pasar, bukan regulator-driven.

Khusus untuk peningkatan jumlah investor, program apa saja yang akan dilakukan?

Kita punya banyak program untuk kembangkan jumlah investor. Saat ini, investor yang memiliki account di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) baru tercatat 380,000. BEI dan Bapepam punya program yang sama yakni integrasi dimana investor akan memasukan order hingga settlement secara otomatis. Kita akan terapkan single ID baik bagi investor saham juga investor di reksa dana. Dengan single ID maka akan ter-capture di KSEI jumlah sebenarnya investor kita. Market kita sekarang sudah mulai meningkat dengan online trading. Ada satu perusahaan efek punya nasabah 1,400 sebelum terapkan online trading. Dengan online trading jumlah nasabah udah capai 14,000 dalam setahun, setahun berikutnya meningkat jadi 46,000 dan di akhir tahun mereka targetkan 50,000 nasabah.

Apakah investor hanya punya opsi buka rekening di KSEI untuk ikut serta berinvestasi di saham?

Saat ini ya. Namun ke depan, dengan nantinya terbentuk OJK (Otoritas Jasa Keuangan), in my opinion, nasabah boleh buka rekening melalui bank. Sekarang tak bisa dilakukan karena otoritasnya beda. OJK itu akan bawahi pasar modal dan perbankan, jadi ke depan investor boleh buka rekening di cabang-cabang perbankan. Seperti di Korea, kenapa marketnya bisa besar karena perusahaan efek yang tidak miliki kapasitas buka cabang di daerah mereka bisa numpang di satu bank.

Di Indonesia, di mana saja kantong investor?

Kita masih lihat di Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan dan Makasar. Kalau investor banyak di daerah-daerah tapi calon emiten terbatas pada daerah-daerah dengan pertumbuhan ekonomi potensial seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Bagaimana animo emiten, khususnya dari daerah-daerah?

Sebetulnya animo masuk ke pasar modal besar sekali. Mereka butuh pendanaan selain perbankan. Cuma terkadang mereka terbentuk masalah pajak. Mereka mengaku punya tiga buku laporan keuangan. Pertama untuk bank biar kelihatan bagus agar bisa dapat kredit, kedua buat pajak dilapor rugi agar tidak bayar pajak dan satu untuk sendiri. Ini kenyataan yang memprihatinkan, tapi itu terjadi. Bahkan ada yang bilang “Bu kalo saya IPO dan saya harus bayar pajak harga produk saya tidak akan kompetitif lagi dengan produk pesaing saya”. Ini tantangan yang kita hadapi. Tapi ke depan keadaan tentu akan lebih baik karena negara kita tengah melakukan reformasi birokrasi, reformasi pajak dan lainnya.

Apa tantangan lain yang ibu hadapi dalam pengembangan pasar modal?

Banyak yang masih bertanya apakah investasi di pasar modal itu syariah atau tidak. Kita sudah dapat fatwa dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk banyak produk shariah. Ini hal yang harus di-address. Ada 186 saham shariah yang ditetapkan oleh Dewan Shariah Nasional dan MUI. Juga ada sukuk (obligasi shariah).

Apa saja program untuk edukasi pasar modal bagi masyarakat?

BEI bekerjasama dengan Danareksa Sekuritas telah menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal mulai 2006. Kita peruntukkan untuk calon investor. Mereka ingin berinvestasi di pasar modal tapi masih takut. Nah, untuk kelas basic, kita beri gambaran pasar modal itu apa, industri yang highly-regulated, apa saja instrumennya. Masuk ke kelas intermediate, kita ajarin analisa teknikal dan fundamental dan simulasi transaksi saham. Sedangkan untuk kelas advance, mereka belajar tentang produk. Animo masyarakat untuk belajar di SPM luar biasa. Di awal peserta mencapai 3,000. Untuk tahun ini, kita bekerja sama dengan empat broker, targetkan peserta 10,000 untuk Jakarta dan Surabaya. Ini program yang on the spot kita mengenal mereka sebagai calon investor. Sekarang untuk kelas intermediate ke advance peserta harus menjadi investor terlebih dahulu. Kalau SPM diperuntukkan bagi calon investor, kita nanti punya sekolah untuk calon profesional di pasar modal bernama The Indonesia Capital Market Institute.

Program-program edukasi sebelumnya?

Saat ini kita sudah punya 12 PIPM (Pusat Informasi Pasar Modal). Dulu konsepnya PIPM itu kita buka di satu daerah. Nanti kalau sudah berkembang – ukurannya banyak broker masuk dan punya investor – PIPM pindah ke daerah lain. Tapi sekarang kita akan dirikan PIPM di setiap ibukota propinsi untuk memastikan continuous education. Dulu ketika PIPM pindah, transaksi saham malah berkurang karena tidak adanya continuous education. Selain itu, kita juga sudah punya 60 pojok bursa di universitas. Ini kerja sama kampus, bursa dan broker. Mahasiswa tidak hanya belajar teori tapi bisa langsung praktek. Ada pojok yang berkembang yakni di Bandung, transaksi sahamnya melampaui transaksi saham di cabang broker.

Dalam hal edukasi, apa tantangan yang ibu hadapi?

Memang butuh patience (kesabaran). Kita harus sabar meng-educate masyarakat. Saya selalu terharu jika mengenang program edukasi di Batam pada 2005 lalu. Batam itu full of chinese community yang punya duit dan hanya main di properti. Saya ke sana sosialisasi saham kepada mereka untuk jadi investor. Saya benar-benar di-challenge, tapi mereka kemudian buy in dengan pasar modal. Mereka bikin Batam Investor Club, dirikan perusahaan efek non anggota bursa. Mereka itu militan banget. Bahkan waktu ada kasus Sarijaya, mereka bukannya kapok padahal mereka bikin perusahaan efek non anggota bursa dengan Sarijaya. Akhirnya mereka pindah broker. Proses belajar mereka itu kena banget, mereka mengerti. Nah, itu butuh patience untuk kita educate mereka. Kasus Sarijaya itu penggelapan dana oleh pemilik. Penggelapan bisa terjadi di mana-mana termasuk di perbankan. Di pasar modal, prinsipnya keterbukaan (transparansi). Selain itu fairness kepada investor. Kita dan regulator terus berusaha agar ada keamanan dan kenyamanan investor untuk berinvestasi di pasar modal. Investor akan diberi access pada saham miliknya yang disimpan di KSEI. Akses pada dana akan menjadi program pengembangan kita berikutnya. Kita juga lagi godok Investor Protection Funds (Dana Perlindungan Investor).

Apa cita-cita ibu untuk pasar modal Indonesia?

Saya pingin bawa program ke daerah-daerah yang ada hubungannya dengan perempuan. Belum lama ini aku bikin profil acara, Menteri Pemberdayaan Perempuan juga hadir, bertemakan “Perempuan & Kemandirian Finansial”. Salah satu kunci sukses pasar modal di negara lain adalah segmen perempuan. Di Korea, ibu-ibu abis antar anak ke sekolah, mereka online di internet untuk trading saham. Aku juga mau kayak gitu di Indonesia. Untuk anak-anak kita sudah bikin program Financial Work Kita. Saya juga melibatkan kalangan artis dalam edukasi pasar modal sekaligus mengundang mereka berinvestasi di pasar modal. Karena artis itu salah satu agent of change. Apa yang mereka lakukan pasti diikuti oleh orang lain. Beberapa artis yang sudah dewasa sudah berpikir rasional, mereka tahu penghasilan mereka tidak akan sustain selamanya. Karena itu saatnya mulai investasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s